GELANG

Sore pukul tiga harusnya kita bertemu. Kamu kecewa karena kataku aku tidak bisa. 

"Malam saja". 

Tapi sampai malam tidak satupun dari dua puluh lima telponku kau jawab. Spam pesan hanya dibaca tanpa berbalas. Sepertinya benar kamu kecewa. 

Malam itu kita melewatkan obrolan dan tertidur dalam perasaan masing-masing. Tiga tahun yang hangat mulai terasa membosankan. Entah kita saling bosan atau enggan memperbaiki hubungan. 

"Besok pagi sebelum kamu pulang, kita ketemu sebentar di minimarket dekat kos". Katamu. Dan aku meng'iya'kan. 

Pagi itu pukul 8, saat suasana mulai panas dan hiruk pikuk kendaraan mulai memekakan telinga. Kita bertemu di depan minimarket itu. Kamu datang dengan baju flanel corak kotak biru. Wajahmu sumringah, tapi seperti ada banyak hal yang ingin kau ungkapkan. Melihat senyum itu, aku jadi lupa semua 

"Lama ya kita nggak ketemu". Katamu mengulurkan tangan dan kita berjabat tangan. Entah bagaimana perasaanmu, tapi rasaku saat itu aku sedikit tersipu. Masih sama seperti saat pertama kita mengobrol 3 tahun lalu di bawah tangga kelas. 

"Iya, maaf ya kemarin nggak jadi".

"Nggak papa kok. Pulang jam berapa nanti?". Senyum mu masih sama. 

"Sebentar lagi. Biar nggak panas dijalan. Ini juga udah panas padahal masih pagi". Padahal dalam hati aku ingin bertemu lebih lama lagi. 

Obrolan berlanjut, kamu dengan kopimu karena sepertinya masih mengantuk. Dan aku dengan susu kotak kesukaanku. Tidak banyak obrolan kita. Sepertinya berterus terang dengan berbicara empat mata bukan cara kita. Saling mengalihkan obrolan, tidak ingin merusak pertemuan kita setelah sakian lama. 

"Oh, iya aku ada gelang". Kamu keluarkan gelang manik kayu dari sakumu. 

"Kemarin waktu jalan-jalan sama temenku aku liat gelang ini. Terus kepikiran buat beli dua. Satunya buat kamu". 

Aku julurkan tanganku. Kamu pasangkan gelang itu di tangan kiriku. 

"Ternyata kegedean ya. Nggak papa deh. Mmm.. kalo semisal bosen dicopot aja ya atau disimpen. Jangan dibuang". 

"Iya". Jawabku. Dalam hati saat itu aku berjanji untuk selalu menyimpan gelang ini. Karena mungkin ini adalah hadiah perpisahan. 

Setelah itu aku pulang, kamu juga. Aku kira semua akan baik baik saja setelahnya. Aku buang juga pikiran burukku untuk mengakhiri semua. Detik itu aku bertekad untuk melanjutkan sampai selama mungkin hubungan kita. 

Tiga hari setelah itu tanggal 1 Agustus 2020. Aku mengirim pesan. 

"Kangen..". 

Tapi jawabmu berbeda dari hari lalu. Sedikit kaget dengan balasanmu. 

"Mulai sekarang kita jangan kangen kangenan lagi ya". 

"Iya, sebenarnya aku juga berfikir seperti itu". Justru kalimat ituyang aku tulis. Di depan layar aku mengetik dengan hati kosong. Mengatakan hal yang tidak seharusnya. Mungkin seharusnya saat itu aku menahanmu. 

Karena sejak itu semua berakhir. Ternyata benar, gelang pemberianmu adalah hadiah perpisahan kita. 

Hingga cerita ini ditulis, bertepatan dengan hari ulang tahunmu. Masih kupakai gelang pemberianmu. Sebagai bentuk ungkapan terimakasih yang tidak terucap untuk cinta pertamaku. Tidak aku lepas, apalagi aku buang. Masih melingkar di tangan kiri seperti dulu. Sama seperti saat kau memasangkan dengan senyum sumringah itu. 

Gelang perpisahan pertamaku. Gelang manik kayu. 

Komentar