Persimpangan
Manusia terkadang aneh, mereka memaksa tetap bertahan meski tau bahwa itu adalah kesia-siaan.
Awalnya tentu saling berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Tidak lupa selalu menjadi rapal pertama di setiap doa dan harapan. Tanpa sadar yang tersisa hanya rindu, yang terkesan hanya kenangan. Dan khayal harus kembali pada kenyataan.
Ada juga yang bangga dalam ketidakpastian, tidak ada sumpah janji. Bagi mereka kehadiran sudah lebih dari cukup untuk melengkapi. Hanya puas dengan bertukar kabar dan cerita di setiap hari. Canda dan tawa adalah pupuk subur bagi setiap aktivitas pagi.
Tapi, toh sama saja. Cerita yang selalu berakhir bahagia tidak ada, kita adalah makhluk dewasa dengan simpangan realita. Persentase antara akhir suka dan duka adalah sama. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kau akan selalu terlepas dari derita dan menjemput tawa.
Ada beberapa cerita, tentang mereka yang masih sulit untuk bahagia dengan cara yang tidak seperti biasanya. Masih selalu dengan bayang bayang seseorang yang saling ingkar untuk bertahan. Menyalahkan segala kenangan yang pernah dilewatkan. Atau menangisi rindu yang tiba tiba datang saat mereka yakin untuk bangkit dari bayang kelam.
Apapun itu, saya tentunya punya versi ceritaku sendiri. Saya rasa pilihan paling bijak terletak pada meikhlaskan. Melupakan adalah opsi kedua dan bukan hal yang penting untuk dilakukan. Kita tetap bisa berjalan dengan memori yang masih melekat. Tersisa atau bahkan masih utuh di kepala. Yang bisa dilakukan sekarang adalah damai dan isi hari dengan lembar baru. 😊😊 .
Ditulis di tahun 2021.
Komentar
Posting Komentar