Aku, Kamu, Kita
Tak adalagi harapku, pupus sudah
semua doa kita. kau dan aku Kembali menjelma menjadi insan yang berbeda. Dengan
jalan yang tidak sama.
Dulu kita sesuatu sebelum berubah
tidak menjadi siapa siapa. Aku bukan lagi Mentari yang menyinari. Bukan lagi
rembulan yang kau rindukan. Bukan lagi angin malam yang kau genggam. Aku lepas
dari pelukmu, dan kau luput dari pandangaku. Saling berhenti untuk menyatu, dan
memulai kisah baru.
Kita hanya diam membisu, saling
bungkam dan membatu. Aku bukan air untukmu yang batu, yang bisa melebur
seiring berjalannya waktu. Saling meyakinkan bahwa ini terbaik untuk ku juga
untukmu. Kita dua insan yang tak lagi satu.
Sekilas terpintas aroma bajumu,
atau gelap indah warna matamu. Masih kusimpan surat dan diary itu. Juga lukisan
tangan harapan doa kita dulu. Masih ada banyak kenangan dan harapku, yang sirna
tak terkabul oleh Tuhan.
Banyak janji janji yang belum
kita tepati, saling membahagiakan dan selalu bersama. Namun kenyataannya, kita
cukup sampai disini. Semua berakhir tanpa perlu kita tangisi. Saling
berbahagia, saling melupakan. Bahwa hadirmu pernah sepenting itu untukku. Dan
hadirku pernah seberharga itu untukmu.
Komentar
Posting Komentar